I LOVE YOU, GOODBYE
~Part ~ 4 ~
“Wahyu, kemana lagi kita harus mencari Sonyaa? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Melody yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Melody ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.
“Aku tau Wahyu, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.
Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Melody duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.
“Sonya, ah maksudku Melody... boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Melody agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.
“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Wahyu?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.
Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Melody tidak menyadari keterkejutanku.
Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Wahyu, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”
“baiklah.” Kataku sekenannya.
Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Melody. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.
“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Melody. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.
Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”
“haha Wahyu kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.
“Wahyu, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.
“baiklah, terserah kau saja.”
Ckrek!
“waaah Wahyu, lihat!” Melody menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”
“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Melody.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.
“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.
Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Sonya dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.
Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Melody, tiba-tiba Sonya muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.
“Wahyu, aku akan bahagia jika kau bersama Melody. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”
Suara bisikan itu lagi! “Melody, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.
“suara apa Wahyu? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”
“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??
“Wahyu, kemana lagi kita harus mencari Sonyaa? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Melody yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Melody ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.
“Aku tau Wahyu, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.
Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Melody duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.
“Sonya, ah maksudku Melody... boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Melody agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.
“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Wahyu?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.
Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Melody tidak menyadari keterkejutanku.
Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Wahyu, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”
“baiklah.” Kataku sekenannya.
Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Melody. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.
“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Melody. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.
Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”
“haha Wahyu kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.
“Wahyu, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.
“baiklah, terserah kau saja.”
Ckrek!
“waaah Wahyu, lihat!” Melody menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”
“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Melody.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.
“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.
Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Sonya dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.
Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Melody, tiba-tiba Sonya muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.
“Wahyu, aku akan bahagia jika kau bersama Melody. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”
Suara bisikan itu lagi! “Melody, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.
“suara apa Wahyu? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”
“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??
“masih mikirin keberadaan Sonya ya?” Tanya nya
sambil tersenyum riang yang seakan memecah pikiranku tentang Sonya. “Tenanglah,
kita pasti bisa menemukan keberadaan dimana Sonya.” Ucapnya sambil menarik dan
menggenggam tanganku sembari mengajakku menyisiri pantai di sore hari.
Genggaman tangan halus Melody membuat hatiku bimbang lagi. Aku mulai
berpikir apakah aku benar – benar mulai menyukai ia dan bagaimana dengan Sonya?
Perasaan ini muncul terus menerus setiap kali aku menatap wajah Melody.
add me on:
f : Jōkā Crazygot
twitter : @joko_bachtiar
G + : Joko Bachtiar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar