Tampilkan postingan dengan label kisah - kisah manis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah - kisah manis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Sepeda untuk Shania


Sepeda Untuk Shania 


Aku berjalan menuju sekolahku. Pagi itu masih segar udaranya. Beberapa teman melewatiku
dengan sepedanya. Aku percepat langkahku. Setelah melewati sebuah supermarket berlabel
Tujuh11, aku bertemu dengan seorang wanita memakai seragam yang sama dengan sekolahku.
Rambutnya panjang, wajahnya manis

“Shania.” Sapaku pada wanita itu.
“Hei...” Balas Shania.
“Shan, udah ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru selesai 13 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA, Makin Tekun Makin Tidak Karuan ya, Shan.”
“Hahaha lucu banget sih kamu.” Ucap Shania.
“Emanganya Badut, lucu.” Balasku.

Aku dan Shania berjalan bersama. Kini aku dan Shania memasuki gerbang sekolah. Aku
menghampiri teman-temanku dikantin dan Shania menghampiri temannya di lorong sekolah. Bel
sekolah berbunyi. Aku segera kekelasku yang dilantai dua.
Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai lamunan. Melihat Shania yang duduk di
depanku, membuat rasa ingin memanggil namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.

“Shania Junianatha?” Panggil ibu Guru. Aku dan Shania mengangkat tangan bersamaan.
“Aa.. A, a, azzeeekkk. Yang dipanggil satu, yang nyaut, duaaaa.” Ledek Ochi.
“Sudah, sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Shan, maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa, gapapa kok.” Balas Shania sambil tersenyum.

Pelajaran dimulai, Shania masih sesekali menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan Ochi
pun juga meledek.

Bel istirahan berbunyi. Aku keluar dari mejaku, begitu juga Shania. Saat aku berjalan, aku
sempat menabrak ia yang didepanku. Ia membalikkan badannya dan tersenyum. Ah, kenapa harus
tersenyum padaku? Membuat aku ingin mimisan saja melihat senyumnya yang manis.
Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk bersama teman-temanku didekat tembok. Shania
duduk dengan Ochi di tengah. Dari tempat dudukku, masih bisa terdengar suara Ochi dan Shania.

“Ochi makan Mie, Shania makan ayam, jadi Mie-Ayam.” Ucap Ochi.
“Terus, Chi?” Tanya Shania
“Jadi kita samaan. Toss!” Ochi menepuk tangan Shania.
“Dasar singit, Ochi.. Ochi..” Ucap Shania.
“Emang layangan koang, singit.” Balas Ochi.

Saat Shania sedang mengambil kecap, Ochi mencolek Shania.
“Shan, mau liat orang gila gak?” Tanya Ochi.
“Siapa?”
“Tuh.” Ochi menunjuk kearahku.

Shania melambaikan tangan ke arahku. Senang bukan main pastinya diriku. Shania
melanjutkan senyumnya, ia kemudian menunjuk tangannya ke arah gelasku. Ah, pantas saja Ochi
bilang aku orang gila, ternyata aku memasukkan saos ke gelas es jerukku. Shania dan Ochi masih
mentertawaiku.

Setelah jam pelajaran terakhir, aku dan murid-murid sekolah berkerumunan keluar sekolah.
Saat aku sedang berjalan, dari belakang, temanku menepuk pundakku.

“Sepedanya udah ada tuh.” Ucap temanku.
“Mana?” Tanyaku.
“Dibelakang sekolah, kok tumben sih pengen naik sepeda?”
“Gapapa, biar ada kenangannya aja.”

Aku dan temanku ke halaman sekolah untuk mengambil sepedanya. Aku cek rantai dan rem
sepeda itu. Setelah kuperiksa aman, aku bawa sepeda itu.
Ku kayuh sepeda itu. Rasanya cukup nyaman. Di ujung jalan kulihat ada Shania.

“Shan..” Panggilku.
“Eh, itu sepeda siapa?”
“Bareng yuk, mau gak?”
“Hem , tapi...”
“Tapi kan Shania kalo jalan kaki capek, yuk.” Ajakku.

Shania duduk dibelakang dengan posisi miring. Ia memangku tasnya. Aku terus mengayuh
sepedaku.
Sampai sudah dirumah Shania.

“Makasih yah.” Ucap Shania sambil tersenyum.
“Iya sama-sama, eh, Shan.”
“Ya?”
“Kalo besok pagi, bareng lagi kesekolah, terus pulangnya temenin ke toko buku mau gak?
Tanyaku.
“Hem... Mau sih. Besok pagi ketemu dimana?”
“Didepan rumahmu, gimana?”
“Oke, sampai besok yah.”

Aku hanya membalas senyum manis Shania dan pergi dari rumahnya. Shania masuk ke dalam
pagar dan melambaikan tangannya padaku.

*

Pagi itu masih terasa sejuk. Aku sudah tiba didepan rumah Shania. Ia sudah berdiri sambil
memakai cardigans berwarna biru. Ia tersenyum dan langsung duduk di bagian belakang sepeda.
Perjalanan sepeda pagi cukup menarik, mulai membahas PR Bahasa Indonesia.

“Shan, udah ngerjain PR bikin cerpen?” Tanyaku.
“Udah dong, judulnya Sepeda Untuk Berdua, kamu?” Tanya Shania.
“Udah, judulnya Hari Pertama.” Jawabku.
“Hihihi.” Shania tertawa lucu.
“Kok ketawa?”
“Iya, kalo cerpen kita berdua digabung, Hari Pertama Sepeda Untuk Berdua, itukan kemarin.”

Aku merasa sangat senang saat Shania bicara seperti itu. Semua terasa sangat indah, seolah
dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya....

“Azzeeekkk... Sepedaan berdua.” Ochi datang dari belakang naik ojek motor.
“Duh, Ochi.” Ucapku pelan.
“Apa lu? Duh aduh, emangnya Ochi kenapa?” Tanya Ochi.
“Kayak yang malem Jumat, masa tiba-tiba nongol.” Jawab Shania.
“Ciee, Ochi naik ojek motor, kalo Shania naik ojek cinta, dadaaahh.” Balas Ochi.

Ochi dan ojeknya langsung melaju cepat setelah meledek aku dan Shania.
Kini gerbang sekolah telah terlihat, Shania turun dari sepeda dan masuk duluan. Aku menaru
sepdeda dan merantai dan gembok dekat pagar halaman sekolah.

*

Pulang sekolah ditandai dengan bel. Shania menungguku di depan sekolah. Aku mengeluarkan
sepda dan kami naiki sepeda itu berdua.
Aku dan Shania menuju toko buku dekat komplek rumah kami.
Sesampainya, aku langsung menuju rak buku mancanegara, dan mengambil buku berjudul
Australia. Setelah kubaca beberapa halaman, aku kembali menghampiri Shania.

“Beli buku nggak, Shan?” Tanyaku.
“Enggak, liat majalah aja, kamu?”
“Tadi Cuma mau baca buku doang bentar, eh makan yuk.”
“Dimana?”
“Udah ntar pasti suka.”

Di sebrang toko buku itu ada sebuah cafe kecil. Di cafe itu tertuliskan “Warung Pemadam
Kelaparan”. Aku dan Shania duduk di depan dekat jalanan. Angin sore mulai terasa.

“Mau makan apa, Shan?” Tanyaku
“Hem disini yang spesial apa?”
“Kalo yang spesial disini, tumis kaktus, kucing saus tiram, tapi kalo yang spesial dihatiku ya kamu.”
“Gombal.” Balas Shania sambil tertawa.
“Gombal mah yang dipinggir jalan.” Balasku.

*

Sore mulai menyapa, aku dan Shania masih bersepeda. Saat bersepeda menuju jalan pulang,
ada sebuah turunan yang curam di depanku.

“Shan, berani gak?” Tanyaku.
“Turunan doang? Berani lah.”
“Tapi gak pake rem.”
“Terus berentinya gimana?”
“Detak jantung kita yang berentiin.”
“Mati iyadeh.”
“Berani gak, Shan?”
“Siapa takut.” Balas Shania sambil memelukku.

Aku hanya mendorong sedikit sepedaku dan sepeda melaju kencang, kurasa angin
menghembus kemejaku. Pelukan Shania dari belakang makin erat. Aku merasakannya. Kami berdua
berteriak.
Saat sampai diujung turunan, aku menekan rem. Aku dan Shania masih mengatur nafas karena
sepeda kami terlalu kencang tadi. Shania turun dari belakang sepeda dan berdiri di sebelahku.

“Hah, gila, tegang banget yah.” Ucap Shania.
“Iya, Shan.” Balasku.
“Itu hidungnya kenapa?”
“Ha?” Aku memegang hidungku dan ada cairan berwarna merah.
“Ih, kok mimsan, nih tissue.” Shania memberikan tissue padaku.
“Yah, mimisan deh.” Jawabku sambil mengelap darah dihidung.
“Iya, kok bisa deh?”
“Abisnya, tadi Shania meluknya kenceng banget.”
“Terus?”
“Terus, akunya seneng banget.”
“Ih... Bodoh deh.” Balas Shania sambil mencubiti aku.

Kami berdua jalan bersama sambil menenteng sepeda dan bergandengan tangan sore itu.

*

Suasana kelas kosong pagi itu cukup ramai. Aku di depan pintu kelas bersama teman-temanku,
Ochi yang sedang duduk sendiri dikursinya, dihampiri Shania.

“Ochi, mau curhat dong.” Minta Shania.
“Azeeekk, pasti curhatin pria ojek cinta itu kan?”
“Apaan sih, eh tapi ya, kemarin tuh seru banget gue sama dia, makan bareng, pulang bareng.”
“Cie Shania jatuh cinta.” Ledek Ochi.
“Ah, mungkin bagi dirinya hanya teman sekelas saja, yang jalan pulangnya searah.” Lanjut Shania.
“Keberadaannya seperti angin ya? Kayak numpang lewat gitu?”
“Iya, Chi. Kadang selalu bercanda, padahal kita selalu saling bicara.” Lanjut Shania.
“Kenapa gak ngomong aja?” Tawar Ochi.
“Ngomong apa?”
“Ngomong ke dia, tentang perasaannya Shania, daripada nyesel.” Tantang Ochi ke Shania.
“Gak tau deh, Chi. Bingung.” Jawab Shania.

*

Aku menenteng sepedaku, Shania berjalan di sebelahku. Pagar rumah Shania terlihat. Aku
berdiri di depan rumahnya.

“Shan, boleh minta tolong gak?”
“Apa?”
“Sepeda ini besok kamu yang bawa yah kesekolah.”
“Lho, kenapa?”
“Gapapa sih, besok kayaknya aku telat, mau ya?”
“Yaudah deh, mampir gak?” Tawar Shania.

Ini adalah kali pertama Shania menawari aku untuk mampir kerumahnya. Aku mengiyakan
ajakannya.
Aku duduk diteras , Shania keluar dari dalam rumah membawakan sirup berwarna merah dan
makanan kecil.

“Shan, enak yah sore-sore disini, hehe.” Ucapku.
“Enak pemandangannya, apa sama aku?” Tanya Shania.
“Hem.. Pemandangan indah, bisa tambah indah tergantung sama siapa nikmatinnya.”
“Emang kenapa sih sama sepedanya?” Tanya Shania.
“Gapapa, pokoknya besok Shania bawa yah ke sekolah.”

Setelah menghabiskan minum, aku pamit pada Shania untuk pulang. Kebetulan orang tua
Shania sedang tidak dirumah, jadi aku tidak berpamitan pada mereka.
Aku keluar pagar dan masih tersenyum pada Shania.

Saat Shania sedang melihat sepeda itu, ia menemukan sepucuk surat yang terselip di kursi
belakang, di surat itu tertulis, “baca dikelas yah, Shania.”

*

Shania mengayuh sepeda itu sendirian menuju sekolah, tanpa diriku. Sesampainya dikelas, ia
membuka surat itu. Dibacanya surat dengan tulisan tanganku.

Shania, maaf aku gak bisa ngomong langsung.
Sepedanya gimana? Enak kan?
Hem... Maaf, mulai semalam aku pindah ke Australia.
Aku minta maaf banget sama kamu, aku gak bisa ngomong langsung, aku benci perpisahan.
Aku harap kamu bisa ngerti, Shan.
Aku nyaman kalo ada di dekat kamu, berdua sama kamu.
Maafkanlah Shania, ampunilah diriku ini yang tidak menyatakan cinta, aku adalah lelaki yang jahat.
Aku gak kemana-mana kok, cuma beda jarak aja sama kamu, sepeda itu tetep ada buat kamu.
Kalo kamu baca surat ini, kamu pasti udah nyobain rasanya naik sepeda itu tanpa aku.
Aku harap kamu betah naik sepeda itu, sampai... two years later, pas aku balik, buat kamu

Shania meneteskan air mata saat membaca surat itu. Lalu ia menengok ke belakang, tempat
dimana aku biasa duduk di kelas. Ochi yang heran melihat Shania bersedih, langsung segera
menghampiri ke meja Shania.
Shania tidak berkata sedikitpun saat Ochi menghampirinya, Ochi mengambil surat di tangan
Shania, lalu membacanya. Ochi menengok ke meja belakang, lalu tersenyum.







add me on:
twitter :  @joko_bachtiar
G + : Joko Bachtiar

I love you, Good Bye ~last episode ~


I LOVE YOU, GOODBYE 

~last episode ~

“Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sudah bertemu dengan Sonya!” ucap ku dengan nada geram dan marah pagi ini setelah kejadian kemarin di toko boneka.
“Hah?” “aku tidak memberitahumu? Coba check saja Hp mu itu, berapa kali aku telpon kamu! Check inbox mu, berapa kali aku sms kamu tapi gag kamu bales!” sahut nya dengan nada geram dan tinggi pula. “Aku sudah bertemu Sonya dua hari lalu, aku dan Sonya sudah pergi ke rumahmu untuk bertemu kamu tapi rumahmu selalu kosong!” “Aku dan Sonya juga pergi ke pantai tempat kalian biasa bersama tapi juga tidak bertemu denganmu!” lanjutnya dengan geram. “lalu siapa gadis yang bersamamu kemarin? Apakah secepat itu kamu menemukan pengganti Sonya?” tanyanya masih dengan nada marah.
“lalu dimana Sonya sekarang?” tanyaku kepada nabilah sambil tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan nabilah tadi.
“untuk apa kamu mencari Sonya lagi? Tidak cukupkah kamu menyakitinya dengan kejadian kemarin? Kita sudah melihat kejadian kemarin dengan jelas. Jika aku diposisi Sonya pun aku akan merasa sakit sekali.” Jawabnya dengan sejuta pertanyaan menyudutkanku lagi.
“Aku dan Wahyu memang tidak ada apa – apa, kami hanya sahabat saja dan aku hanya membantu dia mencari Sonya orang yang dicintainya selama ini.” Sahut seseorang yang tiba – tiba datang dan menengahi pertengaranku dengan nabilah yang tak lain dia adalah Melody. “jangan salah paham dahulu terhadap Wahyu dan jangan luapkan kemarahanmu kepada dia, ini semua salahku.” Ucap Melody sambil membungkuk dan meminta maaf kepada nabilah.
“aku memang tidak tahu dimana sonya sekarang, mungkin dia sedang berada di airport karena kemarin dia bilang dia ingin pergi sekolah ke jepang dan ini nomer ponselnya.” Sahut nabilah dengan nada lembut dan tersenyum kembali.
Tanpa basa – basi pun aku segera naik ke mobil dan tancap gas sambil berusaha menelpon sonya. Tapi  tiba – tiba saja Bruuak! Sesuatu menabrak mobilku dan sekitarku berubah menjadi gelap seketika.
Tiba – tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan lembut. “wahyu sadarlah, aku sudah disisimu sekarang.” Aku seperti mengenal suara itu pikirku. Tapi kenapa badanku tidak bisa digerakkan. Apa yang terjadi padaku, pikirku dalam hati. Perlahan aku membuka mataku dan kulihat semua orang yang kucintai ada di sampingku, terutama Sonya dia menggenggam erat terus tanganku dan tak henti – henti nya menangisiku.
“Kenapa semua menangis ? aku baik – baik saja.” Ucap ku pertama kali kepada mereka ketika aku tersadar. “dimana aku dan apa yang terjadi padaku?” tanyaku selanjutnya kepada mereka.
Perlahan – lahan Sonya dan Melody menjelaskan apa yang barusan terjadi dan ku alami. Aku mendengarkan dengan detil penjelasan mereka. Aku sesekali memandang mereka berdua. Aku merasa aku memang benar – benar menyukai mereka berdua. Aku mengucapkan terima kasih kepada melody yang telah menemaniku beberapa hari ini dan aku terus menggenggam tangan sonya dengan erat dan tak henti – hentinya ku meminta maaf kepadanya atas perbuatan 3 tahun lalu yang telah meninggalkannya. Aku sadar waktuku tidak banyak,aku dapat merasakan bahwa nafasku hanya tinggal sedikit lagi. Aku mulai menceritakan kepada nabilah, Sonya dan melody kejadian 3 tahun lalu. Alasan kenapa aku meninggalkan orang yang paling ku cintai dan pergi ke Paris, kenapa aku datang kembali ke Indonesia, bahkan tentang perjodohanku dengan stella dan satu rahasia yang tak pernah ku ceritakan kepada mereka tentang penyakitku.
“tujuan utamaku pergi ke Paris sebenarnya adalah untuk berobat, aku menderita kanker otak. Tapi Tuhan terus memberiku kehidupan sehingga aku bisa bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya kepadamu.”
“Sonya, aku sungguh minta maaf karena tak berkata jujur 3 tahun lalu, aku tak ingin membuatmu semakin sedih karena mendengar tentang penyakitku ini karena aku tahu kamu sudah sangat menderita akibat perlakuan ibu ku terhadapmu selama ini.” Ucapku sambil meneteskan air mata.
“Sonya, aku dan melody waktu itu hanya….”
“sudahlah, aku sudah tahu apa yang terjadi waktu itu, Melody sudah menjelaskan nya kepadaku tadi.” Sahutnya sambil memotong kata – kataku.
Aku pun tersenyum lega ketika sonya mengatakan itu. Saat itu pula aku melihat sonya tersenyum kembali. Senyum yang selama ini aku rindukan selama 3 tahun silam. Senyum dari seseorang yang paling aku cintai tapi tak pernah ku temui.
Aku pun melanjutkan perkataanku, “ Sonya, waktu ku tidak banyak kali ini, aku ingin kamu selalu tersenyum apa pun yang terjadi, kejarlah impianmu selama ini, aku tahu kamu ingin pergi sekolah ke Jepang, maka setelah ini pergilah kejarlah impianmu itu.”
Aku pun mengambil sesuatu dari saku celanaku. “ Sonya, ini adalah jam tangan dengan model panda seperti yang aku janjikan padamu 3 tahun lalu. Aku tidak pernah melupakan janjiku terhadapmu. Aku selalu melihat jam tangan ini ketika aku merindukan kehadiranmu selama ini. Aku ingin kamu memiliki jam tangan ini.” Ujar ku sambil mengenakan jam tangan itu ke tangan Sonya.
“ragaku memang akan pergi meninggalkanmu, tapi cintaku selalu akan selalu ada di hatimu. Cintaku tak akan pernah meninggalkanmu.” Ucapku dengan suara lirih dan terus menggenggam tangan sonya. Aku melihat Sonya dan melody tak henti – hentinya berlinang air mata mendengarkanku, akupun berusaha tersenyum kepada mereka dan berkata “aku ingin pergi dengan senyuman dari wajah kalian, pliss aku mohon, jangan teteskan air mata kalian.” Pintaku kepada mereka.
Mereka pun menahan tangisan dan air matanya dan berusaha tersenyum kepadaku untuk terakhir kalinya. Bahkan Nabilah pun ikut tersenyum dan menggenggam tanganku.
“ I love you Sonya, But Good bye…..” itulah kata terakhir yang terucap dari mulutku dan senyuman mereka mengantarkan kepergianku untuk terakhir kalinya dan selamanya.



add me on:
twitter :  @joko_bachtiar
G + : Joko Bachtiar

I love you, Good Bye ~part 5~


I LOVE YOU, GOODBYE 

~Part ~ 5 ~

“Kemana lagi kita pagi ini mencari Sonya?”pertanyaan yang sama yang setiap pagi selalu kudengar dari wajah cantik Melody. Aku tau ia bertanya kepadaku tapi selalu Setelah pertanyaan itu terlontar aku selalu terdiam dan termenung tak tahu harus mulai dari mana lagi aku harus mencari Sonya.
“Apa kita ke pantai lagi dan meng…”
“ke toko boneka saja” sahutku lantang dan memotong pertanyaan Melody.
Melody menatapku kaget dan sinar kebingungan terpancar diwajahnya seakan ingin bertanya kenapa aku ingin pergi ke toko boneka bukan ke pantai dan menghabiskan waktu disana bersamanya seperti biasanya. Akupun hanya membalas dengan senyuman tatapan kaget dan bingung dari wajah Melody itu.
“Mel,,, kenapa kamu selalu membantuku dan menemaniku mencari Sonya selama ini?” Tanya q iseng dan agar memecah keheningan diantara kami.
Dia menatapku dan sambil agak tertawa dia menjawab, “kalau aku bilang aku melakukannya karena aku suka kamu trus aku ingin selalu dekat kamu, apakah kamu percaya?”
Aku sontak kaget mendengar jawaban melody yang seperti itu. Aku mulai berpikir apakah benar yang barusan diucapkan melody. Apakah ia benar suka padaku? Aku mulai bimbang lagi tentang perasaanku sekarang ini, apakah aku juga sebenarnya sudah mulai menyukai melody? Apakah aku harus bilang ke melody kalau aku juga suka dia? Apakah keputusanku ini tepat? Arghhh,,,, aku bergumam sendiri dalam hati, pertanyaan – peranyaan ini membuatku semakin pusing dan dilemma saja.
Ckrek!
“Lihat, wajahmu cukup tampan dan lucu juga kalau sedang bingung seperti ini. Ahahahah!” sambil tertawa dan menunjukkan hasil shootnya barusan kepadaku. “Tenang saja tadi aku hanya asal bicara, aku tahu kamu hanya mencintai Sonya seorang.” Ujar nya padaku dengan tawa dan wajah merah merona. “Kita sudah sampai ini, apa kita akan berdiam di mobil hingga toko ini tutup?” ucap nya dengan nada bosan.
“oh maaf – maaf, ayo kita lihat – lihat kedalam.” Ucapku kaget dan agak gugup ketika menatap wajah manisnya.
“wahyu, ayo kemari!” teriak melody sambil menarik tanganku. “coba lihat boneka itu!” sambil menunjuk boneka panda besar di rak belakang deretan boneka ini. “Boneka panda ini lucu sekali, andaikan saja ada yang mau membelikannya untukku.” Gumamnya denga wajah terkesima dan kagum memandangi kelucuan boneka itu.
Sontak aku berpikir apakah melody itu sonya? Kenapa saat aku bersamanya aku merasa bahagia seperti aku sedang bersama Sonya dahulu. Tawanya, senyumannya, keceriaan di wajahnya, semuanya mirip dengan sonya. Saat aku di dekatnya aku merasa bahagia, tidak seperti aku berada di dekat Nabilah waktu itu. Ditambah lagi dia juga menyukai boneka panda sama persis seperti Sonya. Apakah melody itu sonya? Apakah melody dan sonya itu orang yang sama? Apakah melody itu jelmaan dari sonya? Ataukah ini hanya sebuah kemiripan saja? Tapi wajah mereka jelas berbeda? Tapi kenapa sifat mereka begitu mirip dan aku selalu merasa nyaman bersamanya? Sejuta pertanyaan ini terus memenuhi otakku dan tiada hentinya bermunculan di benakku.
“Hei, apa yang kamu pikirkan? Kamu mau cari apa sih di toko boneka ini?” ucap melody sambil menatapku yang sedari tadi berdiam diri memandanginya.
“ah, oh maaf, ambil saja boneka itu kalau kamu mau. Aku akan membelikannya untukmu.” Ucapku spontan dan masih setengah sejuta pertanyaan di benakku.
“Arigato!” ucapnya dengan nada senang dan sambil mencium pipiku.
Seketika aku merasa bahagia saat melihat wajah melody begitu senang, wajahnya begitu riang sekali dan apalagi saat dia mencium pipiku. Seketika pula aku melihat Sonya dan Nabilah berada di depanku dan mereka melihat apa yang barusan terjadi. Aku melihat air mata Sonya mulai berlinang dan ia pun berlari meninggalkan toko ini setelah melihatku. Sontak aku pun mengejarnya dan meninggalkan melody di toko itu sendirian tanpa sepatah katapun.




add me on:
twitter :  @joko_bachtiar
G + : Joko Bachtiar

I love you, Good bye ~Part 4~


I LOVE YOU, GOODBYE 

~Part ~ 4 ~

“Wahyu, kemana lagi kita harus mencari Sonyaa? Kita sudah mengunjungi rumah tempat ia tinggal dulu dan menanyakan kepada tetangga sekitar namun tidak ada yang tahu dimana keberadaan ia atau keluarganya saat ini.” aku mendengar suara Melody yang sedang menyetir mobil. Aku tau ia bertanya padaku. Tetapi aku tidak menjawabnya. Aku diam membisu karena aku masih teringat akan kejadian semalam. Entahlah, tetapi dari nada bicara Melody ia seperti tidak pernah melakukan hal itu.

“Aku tau Wahyu, kau ingin pergi ke pantai itu lagi dan menghabiskan waktu disana saja, bukan? Baiklah, aku akan menemanimu.” Ujarnya.

Sesampainya kami disana, seperti hari-hari yang lalu aku dan Melody duduk di atas pasir putih tepi pantai tersebut dan memandangi lautan biru luas yang indah serta gumpalan awan cerah yang berbentuk seperti gulali.

“Sonya, ah maksudku Melody... boleh aku tau dimana kau kemarin jam 8 malam?” senatural mungkin aku bertanya pada Melody agar ia tidak curiga. Entah mengapa aku ingin menanyakan hal ini.

“ah, jam 8 kalau tidak salah aku menelfonmu tetapi handphone-mu sepertinya tidak aktif. Memangnya ada apa Wahyu?” wanita itu menjawab pertanyaanku sambil memotret objek-objek di sekitarnya.

Apa?! Lalu siapa yang memelukku kemarin malam?! “t-tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku berharap Melody tidak menyadari keterkejutanku.

Ia berdiri dan menghempaskan pasir dari celana panjang. “Wahyu, tolong pegang dulu kameraku, aku mau ke kamar kecil.”

“baiklah.” Kataku sekenannya.

Melihat kamera itu hatiku seperti tertarik untuk melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Aku mulai menelusuri satu persatu foto demi foto yang diambil oleh Melody. Dia memang wanita yang berbakat. Semua hasil potretannya bagiku begitu memukau.

“hei, kau sedang apa? melihat-lihat foto ya?” sahut seseorang yang sudah pasti Melody. Rupanya ia kembali dalam waktu yang sangat singkat, padahal aku belum menemukan fotoku karena terlalu banyak tertimpa oleh foto lainnya.

Aku mengulurkan kamera itu padanya. “ya, hanya sekedar melihat-lihat. Kau memang fotografer yang handal menurutku.”

“haha Wahyu kau pandai sekali memuji. Tapi aku masih amatir dan harus banyak belajar lagi.” Ia tertawa lepas dan tersenyum lalu kembali mengambil gambar di sekitarnya.

“Wahyu, bagaimana kalau kita foto bersama? Kau mau tidak?” tanya gadis itu dengan mimik yang berharap aku akan mengiyakannya.

“baiklah, terserah kau saja.”

Ckrek!

“waaah Wahyu, lihat!” Melody menunjukan hasil foto di layar LCD kamera itu kepadaku. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. “kau tampan sekali, kalau teman-temanku melihatnya mereka pasti akan berebutan untuk berkenalan denganmu haha.”

“sepertinya virusku tertular. Sekarang kau jadi pandai memuji Melody.” Sindirku diiringi sedikit gelak tawa.

“mungkin saja haha.” Wanita itu tertawa renyah sampai matanya benar-benar menyipit.

Bersama dengannya aku merasa hal yang berbeda. Apa ini adalah rencana Tuhan untukku? Apa aku harus melupakan Sonya dan memulai kehidupan yang baru dengan orang yang baru juga? Entahlah, sempat terlintas difikiranku seperti itu tetapi aku belum berani mengambil tindakan nyata. Aku takut keputusan yang ku pilih malah akan memperburuk keadaan.

Bagaimana jika ketika aku sudah memilih Melody, tiba-tiba Sonya muncul dan kembali? Aku tidak tau harus menjelaskan padanya mulai dari mana. Aku tidak ingin melukai hatinya lagi.

“Wahyu, aku akan bahagia jika kau bersama Melody. Dia wanita yang baik. Kau tidak perlu ragu.”

Suara bisikan itu lagi! “Melody, kau dengar suara itu?” tanyaku padanya seperti orang paranoid.

“suara apa Wahyu? Aku tidak mendengar apa pun, dan tidak ada suara lain selain desiran ombak di sini.”

“sudahlah, lupakan saja.” Ini membuatku gila. Suara itu kembali muncul dan membuat bulu kudukku berdiri. Apa maksud semua ini??
“masih mikirin keberadaan Sonya ya?” Tanya nya sambil tersenyum riang yang seakan memecah pikiranku tentang Sonya. “Tenanglah, kita pasti bisa menemukan keberadaan dimana Sonya.” Ucapnya sambil menarik dan menggenggam tanganku sembari mengajakku menyisiri pantai di sore hari.
Genggaman tangan halus Melody membuat hatiku bimbang lagi. Aku mulai berpikir apakah aku benar – benar mulai menyukai ia dan bagaimana dengan Sonya? Perasaan ini muncul terus menerus setiap kali aku menatap wajah Melody.




add me on:
twitter :  @joko_bachtiar
G + : Joko Bachtiar

i love you, good bye part 3


I LOVE YOU, GOODBYE 

~ PART 3 ~

“jadi kau pergi meninggalkannya karena terpaksa? Kalau kau tetap bersama dengannya apa yang akan terjadi?” baru 2 hari aku mengenal wanita ini, tapi aku merasa sangat dekat dengan dirinya. Melody adalah tipe yang periang. Setiap aku menatap matanya yang berkilat-kilat, aku merasa ia memberikan aku semangat untuk tetap menjalani hidup walau perih.

“jika aku tetap bersamanya... ibu ku akan melukainya dengan cara memperkenalkan Sonya dengan Stella.” Aku tak mampu meneruskan ceritaku. Aku tertunduk berusaha tegar. Namun beberapa saat terdiam aku kembali mengangkat kepalaku yang terasa berat dan menatap Melody untuk melanjutkan ceritaku. “Stella adalah wanita asal Paris yang di jodohkan denganku. Semua itu adalah ulah ibu ku, maksudku ibu tiriku. Ia ingin menyingkirkan aku dari rumah dan menguasai harta almarhum Papaku. 3 tahun aku menetap disana sampai pada saat acara pertunanganku dan Stella diselenggarakan, tiba-tiba ibu tiriku mengalami serangan jantung dan ia meninggal di tempat. Aku berfikir bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk kembali ke Indonesia dan menemui Sonya. Tapi aku masih belum dapat bertemu dengannya. Aku takut sesuatu terjadi kepadanya.”

Wanita itu memegang bahuku dengan kedua tangannya. Ia menarikku ke dalam pelukannya. “kau laki-laki yang sangat baik Wahyu. Mendengar ceritamu aku jadi merasa iri terhadap Sonya. Ia beruntung sekali mendapati dirimu. Aku akan membantu mencarinya.”

“terimakasih Melody.” Ucapku pelan karena sedikit terkejut.

“sebaiknya kita pulang sekarang, langit sudah gelap. Bye Wahyu.” Lagi –lagi gadis itu memamerkan senyum lebarnya yang indah. Aku seperti terhipnotis olehnya. Aku tidak boleh begini. Aku harus sadar dan memikirkan Sonya.

Langkah kakiknya semakin menjauh, sosoknya pun samar-samar tak terlihat lagi oleh kedua mataku yang mempunyai minus 2. Kini hanya aku yang berada di tepi pantai ini. Ketika aku bersiap pergi dari sana tiba-tiba terdengar suara seperti bisikan angin:

“Wahyu, selamat tinggal... aku harap kau bahagia bersama dengannya. Terimakasih untuk semua cinta yang pernah kau berikan.”

Suara itu lembut dan sangat pelan. Tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Aku rasa ini hanya halusinasiku saja karena belakangan ini aku selalu berkunjung ke tempat aku dan Sonya biasa bersama. Aku begitu rindu terhadapnya sehingga aku sampai mendengar suara-suara aneh di telingaku.

Jam menunjukkan angka 8 dan aku langsung melesat ke parkiran mobil dan menginjak gas untuk pergi dari tempat itu. Di tengah perjalanan aku teringat kembali akan semacam suara atau bisikan di telingaku tadi saat di pantai. Sonya, dimana dirimu? Aku rasa aku sedang frustasi sampai-sampai mengira suara itu adalah suaramu.

Ciiiittttttt...

Hampir saja aku menabrak wanita tersebut! Untunglah aku segera menginjak pedal rem. Ketidakkonsentrasianku ini cukup untuk menyeretku ke penjara. Aku melepas seat belt dan berniat menghampirinya. Tetapi ketika aku keluar mobil aku tidak melihat siapapun. Kemana wanita itu pergi? Tanyaku dalam hati penasaran.

“Hei! Wahyu! Apa yang kau lakukan di jalanan sepi seperti ini?” seruan itu.. aku rasa aku mengenal suara itu.

“M- Melody?” kataku sedikit gugup tak percaya. Suatu kebetulan yang luar biasa menurutku.
Selangkah, dua langah, tiga langakah ia berjalan mendekatiku. Sekarang ia tepat di depan wajahku. melody terdiam tertunduk menatap aspal jalanan beberapa saat, lalu kemudian dengan secepat kilat ia merangkulku, ia merangkulku dengan erat seperti orang yang sudah sangat lama tidak bertemu dan meluapkan kerinduannya yang membuncah. Dan pelukannya kali ini berbeda jauh dengan yang sebelumnya.

“h-hei, Melody, ada apa denganmu?” tanyaku agak terbata-bata karena kelakuan wanita satu ini. Entah mengapa aku merasa gugup, aku tidak nyaman ia memelukku. Aku merasakan hal yang aneh dan di lain sisi aku juga tidak enak dengan Sonya.

“jangan merasa tidak enak. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja Wahyu.” Nadanya begitu lembut dan membuat aku luluh. Aku membalas pelukan Melody dan membiarkan ia juga memelukku.




add me on:
twitter :  
G + : Joko Bachtiar

I love you, Good Bye part 2


I LOVE YOU, GOODBYE 

~ PART 2 ~

Tampaknya datang pada Nabilah adalah keputusan yang salah. Tapi hanya dia satu-satunya yang tersisa. Semua orang yang dekat atau pernah dekat dengan Sonya sudah aku kunjungi rumahnya satu per satu, namun mereka juga tidak mengetahui keberadaan wanita yang sangat ku cintai itu.

Aku mulai putus asa. Aku tidak tau lagi harus berbuat apa dan pergi kemana untuk mencarinya. Akhirnya aku memutuskan untuk menenangkan diri ke tempat aku dan Sonya biasa berkunjung. Duduk di tepi pantai dan menatap lautan luas adalah kegemaran kami. Namun rasanya kini tidak sama seperti dulu. Sekarang Sonya tidak ada di sampingku, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan jejak.

Langit biru yang cerah mulai berubah warna menjadi oranye kekuningan. Tidak terasa aku sudah berjam-jam duduk di tepi pantai ini. Aku seperti orang bodoh. Menunggu dan berharap Sonya akan datang dan tersenyum kepadaku. Sonya, aku harus menjelaskan padamu alasan aku meninggalkanmu dan memintamu untuk menunggu tanpa waktu yang jelas, tapi di mana dirimu saat ini?

Ckrek!

Tiba-tiba saja aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badanku dan ternyata dugaanku benar! “apa yang kau lakukan?! Aku tidak suka seseorang memotretku tanpa izin!” wanita itu tidak memedulikanku dan masih menatapi kamera DSLR-nya.

“ah, oh, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kau keberatan kau boleh menghapusnya.” Ia perlahan menghampiriku. Ia menyodorkan kameranya ke arahku. “ini, hapuslah sendiri fotomu.” Ujarnya.

Entah perasaan apa yang menghinggapiku. Aku tidak suka seseorang mengambil fotoku tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak ku kenal. Tetapi kali ini berbeda. Aku ingin mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi aku tidak bisa. Hatiku berkata untuk tidak menghapusnya. “tidak perlu. Kau bisa menyimpannya.” Kataku berusaha bersikap acuh.

“sungguh?! Terimakasih! Oya, siapa namamu?” wanita itu tersenyum riang.

Tanpa sadar aku bersama dengannya sepanjang sore. Kami berbincang-berbincang tentang banyak hal hingga larut. Dan selama itu aku tidak memikirkan Sonya. Kehadiran wanita bernama Melody yang mempunyai hobby fotografi itu telah membuatku merasa semakin bersalah terhadap Sonya. Bisa-bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tau, sungguh... semua mengalir begitu saja. Sonya, aku harap kau tidak marah padaku jika kau mengetahui ini. Aku hanya mencintaimu seorang.




add me on:
twitter :  
G + : Joko Bachtiar

i love you, Good bye part 1


I LOVE YOU, GOODBYE

~ PART 1 ~

Aku memandangi foto tersebut beberapa saat. “Sonya, i’ll keep you on my mind... we will meet again someday. Goodbye...” Ucapku dengan memegang erat selembar foto di tangan kanan lalu menempalkannya di dada.

“Sonyaa!!” mimpi itu lagi! sudah beberapa kali aku bermimpi seperti itu, mimpi itu membangunkanku dan ternyata aku sudah landing dan tiba di Indonesia. Aku pun bergegas pergi menemui Nabilah, sahabat Sonya sejak kecil yang juga kawan sekolahku dulu.

“aku tidak tau mengenai Sonya semenjak kepindahannya. Lagi pula, kenapa kau baru mencarinya sekarang? Terakhir kali aku bertemu Sonya 2 tahun yang lalu, ia bercerita kepadaku bahwa keluargamu tidak menyetujui hubungan Kalian. Karena itu kah kau meninggalkan Sonya ke Paris ?” Celotehan Nabilah membuatku benar-benar merasa bersalah. Saat ini aku membutuhkan dukungan, bukan nasehat-nasehat yang memojokkan posisiku. Pergi ke Paris juga bukanlah keinginanku. Tetapi, jika aku tidak melakukannya aku akan lebih melukai Sonya.

“Nabilah, aku datang kepadamu untuk menanyakan keberadaan Sonya, bukan untuk mendengarkan ocehanmu! Kau tidak tau apa pun mengenai aku, jadi jangan pernah berkata seolah-olah aku yang paling bersalah dalam hal ini!” bentakku padanya. Nabilah menghampiriku, kemudian aku merasa cairan bening mengalir dari atas membasahi kepalaku. Wanita itu menyiramku dengan segelas air putih! “apa-apaan kau Nabilah?!”

Ia tersenyum sinis. Matanya menatapku tajam penuh rasa kebencian. “kenapa kau hanya mencintainya Wahyu?! Aku menyukaimu lebih dari Sonyaa!! Kalau wanita yang kau puja-puja itu memang mencintaimu, mengapa dia pergi?! Mengapa dia tidak tetap diam menunggmu seperti yang aku lakukan selama ini?! Aku bisa memberikanmu kasih sayang yang tidak pernah Sonya berikan kepadamu Wahyu!” ucapan Nabilah membuatku bergidik. Wanita itu sungguh menakutkan. Ia terlalu terobsesi terhadapku yang tidak pernah menyukainya sedikitpun. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah seribu meninggalkan rumahnya.




add me on:
twitter :  
G + : Joko Bachtiar